Fari Hanum

Perempuan, 20 Tahun

Banda Atjeh, Indonesia

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.
| ::

Navbar3

Search This Blog

Sabtu, 26 Januari 2013

TENTANG KITA




Akhir-akhir ini aku sulit tidur. Bukan banyak pikiran, hanya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Tapi ada satu hal  yang membuat aku tenang, mendengar suaramu diujung telepon hingga aku tertidur pulas. Mendengar sura dan saling tertawa, itulah yang biasa kita lakukan disamping membaca pesan singkat yang tertulis rapi dengan huruf dan tanda baca yang penuh intonasi. Sapamu di ujung ponsel adalah pelepas kangen, walaupun alasan itu cukup bodoh bagi kita yang sudah sama-sama dewasa. Dalam cinta, adakah kebodohan? Justru karena kebodohan itulah segalanya jadi Nampak manis dalam kegelapan, terlihat memesona dalam ketersesatan.

 Dalam jarak sejauh ini tak banyak hal yang bisa kita lakukan selain menulis dan mendengar, bukan bersentuhan. Padahal, tahukah kamu tulisan dan suara yang terdengar di ujung handphone sungguh  berbeda dengan pertemuan nyata? Well, tidak akan kubahas lagi, aku selalu hapal  kalimat pamungkasmu ketika aku mengungkit soal ini, “sabar” katamu dengan suara yang amat sangat menenangkan, “suatu saat pipiie pasti kesana buat jemput mimiie”.

Kita terus saja berjuang dan melewati yang memang tak pernah kita minta untuk terjadi. Seperti takdir, dia datang bagai pencuri, tanpa laporan dan ucapan permisi, datang menghampiri. Ini bukan salahku, juga bukan salahmu. Aku dan kamu sudah tahu yang harus kita hadapi, lalu pantaskah mengeluh? Jelas tidak. Sejauh ini perjuangan kita memang tidak sia-sia, belum sia-sia (lebih tepatnya). Apa kau membaca nada ketidakyakinan? Manusiawi  jika manusia punya rasa tidak yakin, karena seluruh yang terjadi di bawah langit ini memang penuh ketidakpastian.

Sayang, apa yang hendak kita perjuangkan dan kita buktikan di mata banyak orang? Tahanan kotakah kita? Koruptorkah kita? Bukankah kita hanya jatuh cinta? Hanya tidak ingin menyalahi kodrat Tuhan yang membuat manusia punya rasa, punya hati dan ingin berbagi. Masih tahan kau berjuang bersamaku sampai segitunya? Aku sudah bilang padamu, tidak perlu kau masuk ke dalam terowongan yang tak punya ujung. Juga kukatakan, tidak perlu kau masuk ke lingkaran yang tak kau kenali setiap sudut-sudutnya.

Ternyata kamu tidak seperti yang kubayangkan, kamu lebih kuat dan lebih tegar dari yang kukira. Kamu masih berjalan si sampingku, menggenggam erat jemariku. Jadi, sudah berapa detikkah kita lewati bersama? Uummpp…. Tak perlu dihitung. Kebersamaan bukanlah kalkulasi yang penuh dengan jawaban pasti. Kebahagiaan kita juga bukan ilmu hitung yang mutlak dan bisa dipecahkan secara jelas.


Setelah semua yang kita lewati bersama, yakinkah ada kebahagian di ujung jalan sana? Sesudah beberapa tikungan yang kita lalui, akankah kita tak akan bertemu di tikungan yang lebih tajam? Tak ada yang pasti, sayang. Kita hanya tahu melangkah dan terus melangkah. Menikmati setiap yang ada di depan, kiri dan kanan, mempelajari yang ada didepan kita, dan menerima yang harusnya kita pasrahkan.

Sampai kapan kita bersama? Sampai kamu terbatuk-batuk di ruang tamu dan aku  tergopoh-gopoh membawa obat batukmu? Sampai kapan kita bisa terus menyatu seperti ini? Sampai kamu tak mampu lagi mengintip matahari di luar jendela dan hanya bisa memelukku erat ketika bangun di pagi hari? Sampai kapan perasaan ini terus bertahan? Sampai kata “pipiie sayang mimiie” terucap saat kau mengecup nisanku atau sebaliknya aku yang mengecup nisanmu??

Kota kita saja berbeda, tapi kita masih saja mau memimpi-mimpikan bahagia. Manusia memang selalu keras kepala.



2 comments:

tinggalkaN komentar mU.... ^_^